SHI - Dalam ajaran Islam, kesehatan dan pengobatan mendapat perhatian besar. Rasulullah ﷺ menegaskan bahwa setiap penyakit pasti memiliki obat. Prinsip ini tidak hanya membangkitkan harapan bagi orang yang sakit, tapi juga mendorong pencarian ilmu pengobatan secara ilmiah. Artikel ini mengulas hadits-hadits seputar hal tersebut dan hikmahnya menurut pandangan Thibbun Nabawi.
Hadits-Hadits Tentang Setiap Penyakit Ada Obatnya
Beberapa hadits shahih berikut menjadi landasan penting dalam dunia pengobatan Islam:
Rasulullah ﷺ bersabda:
لِكُلِّ دَاءِ دَوَاءٌ فَإِذَا أُصِيْبَ دَوَاءُ الدَّاءِ بَرَأَ بِاِذْنِ الله
“Setiap penyakit ada obatnya. Jika obat tersebut tepat mengenai penyakitnya, maka ia akan sembuh dengan izin Allah.” (HR. Muslim)
Dalam riwayat lain:
مَا أَنْزَلَ اللهُ دَاءً إِلاَّ أَنْزَلَ لَهُ شِفَاء
Allah tidak menurunkan suatu penyakit melainkan Dia juga menurunkan obatnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Dalam hadits dari Usamah bin Syuraik, Rasulullah ﷺ bersabda:
إن الله لم يضع داء إلا وضع له شفاء أو دواء إلا داء واحدا قالوا يا رسول الله ما هو قال الهرم
“Berobatlah, wahai hamba-hamba Allah. Karena Allah tidak menurunkan penyakit kecuali menurunkan pula obatnya, kecuali satu penyakit.” Mereka bertanya: “Apa itu?” Beliau menjawab: “Lanjut usia.” (HR. Ahmad)
Hadits-hadits ini menjelaskan bahwa semua penyakit — baik fisik maupun psikis — memiliki solusi, kecuali tua yang merupakan proses alami.
Baca Juga Madu dan Zaitun: Obat dari Al-Qur'an dan Ilmu Kesehatan
Hikmah dari Prinsip Ini
1. Motivasi untuk Berobat
Rasulullah ﷺ secara tegas menyuruh umatnya untuk berobat. Ini menunjukkan bahwa berobat adalah bagian dari takdir, bukan menolaknya.
“Berobatlah, karena semua itu adalah bagian dari takdir Allah.” (HR. Abu Khuzamah)
Menolak berobat dengan dalih takdir justru menyelisihi ajaran Islam dan melemahkan tawakal yang sejati.
2. Kesembuhan Bergantung pada Kesesuaian Obat
Kesembuhan tidak hanya ditentukan oleh keberadaan obat, tetapi juga kesesuaian antara obat, penyakit, dosis, waktu, dan kondisi tubuh. Jika tidak sesuai, maka tidak akan ada manfaat, atau bahkan memperparah penyakit.
3. Ilmu Manusia Terbatas
Kadang suatu penyakit belum ditemukan obatnya, bukan karena tidak ada, tapi karena manusia belum mengetahui atau belum ditunjukkan oleh Allah.
“Ada yang mengetahui obatnya dan ada yang tidak mengetahuinya.” (HR. Ahmad)
Ini menjadi motivasi bagi para ilmuwan dan dokter untuk terus meneliti dan menggali potensi pengobatan yang belum diketahui.
Tawakal dan Ikhtiar: Dua Pilar yang Tidak Terpisahkan
Islam menyeimbangkan antara tawakal (berserah diri) dan ikhtiar (usaha). Meninggalkan sebab-sebab pengobatan bukanlah bentuk tawakal, tapi kelemahan. Tawakal sejati adalah bersandar kepada Allah setelah melakukan usaha maksimal.
Contohnya, seseorang tidak akan berkata, "Jika Allah mentakdirkan kenyang, saya akan kenyang tanpa makan." Maka demikian pula dengan kesembuhan, seseorang perlu berobat sebagai bentuk usaha, kemudian berserah kepada Allah untuk hasilnya.
Pengaruh Kekuatan Jiwa Terhadap Kesembuhan
Keyakinan bahwa penyakit memiliki obat, akan memperkuat semangat hidup dan harapan untuk sembuh. Ini berdampak pada imun tubuh dan mempercepat kesembuhan. Oleh karena itu, kekuatan spiritual dan mental sangat penting dalam proses pemulihan.
Penyakit Hati dan Obatnya
Penyakit hati seperti hasad, sombong, riya, atau syirik, juga memiliki obatnya. Dengan ilmu, iman, dan taubat, seseorang dapat menyembuhkan hatinya. Prinsip ini menunjukkan bahwa pengobatan Islam bersifat holistik, tidak hanya fisik tapi juga mental dan spiritual.
Kesimpulan
Hadits-hadits tentang "setiap penyakit ada obatnya" merupakan motivasi besar dalam dunia kesehatan Islami. Islam tidak hanya menganjurkan pengobatan, tapi juga menyuruh untuk terus belajar, mencari obat, dan tidak berputus asa dari rahmat Allah. Ini membuktikan bahwa Islam adalah agama yang ilmiah dan solutif dalam menghadapi ujian berupa penyakit.
