SHI - Dalam perspektif Thibbun Nabawi (pengobatan ala Nabi ﷺ), penyakit tidak hanya dipandang secara fisik, tetapi juga mencakup sisi non-fisik yang berkaitan dengan spiritualitas dan reaksi mental manusia. Artikel ini mengupas secara lengkap dua macam penyakit menurut warisan pengobatan Nabi ﷺ, penyebabnya, dan bagaimana menjaga kesehatan secara holistik dan seimbang.
1. Dua Macam Penyakit: Fisik dan Non-Fisik
A. Penyakit Fisik
Penyakit fisik timbul karena gangguan materi dalam tubuh, yang mengacaukan fungsi organ dan metabolisme. Beberapa penyebab utama yang disebutkan:
- Makan sebelum makanan sebelumnya tercerna sempurna
- Makan berlebihan melebihi kebutuhan tubuh
- Mengonsumsi makanan yang kurang bermanfaat
- Makanan sulit dicerna atau bercampur jenis terlalu banyak
Nabi ﷺ memberi panduan makan dengan formula seimbang:
فَثُلُثٌ لِطَعَامِهِ وَثُلُثٌ لِشَرَابِهِ وَثُلُثٌ لِنَفَسِهِ
“Sepertiga untuk makanan, sepertiga untuk minuman, dan sepertiga untuk napas.” (HR. Ahmad)
Ini bukan sekadar pola diet, tapi prinsip kesehatan yang menjaga fungsi optimal tubuh dan mencegah penyakit.
B. Penyakit Non-Fisik
Penyakit non-fisik adalah gangguan yang berkaitan dengan ruhani, hati, dan stabilitas jiwa. Makanan dan kebiasaan fisik yang berlebihan bisa memicu kelemahan hati dan semangat ibadah, serta meningkatkan dorongan hawa nafsu yang tak terkendali.
“Perut yang penuh makanan bisa membahayakan hati dan tubuh.” (Disarikan dari pengalaman para sahabat dan hikmah Thibbun Nabawi)
2. Tiga Tingkatan Makanan
Makanan menurut pandangan Nabi ﷺ dibagi menjadi tiga:
- Kebutuhan (Ḥājah) – Sekadar untuk menegakkan tulang punggung dan menjaga stamina.
- Kecukupan (Kifāyah) – Cukup untuk mempertahankan kekuatan tanpa berlebihan.
- Kemewahan (Isrāf) – Berlebihan dalam porsi dan jenis yang menyebabkan penyakit.
Makanan berlebih bukan hanya menyuburkan tubuh, tapi justru melemahkan stamina dan kepekaan spiritual.
3. Tentang Unsur Api dalam Tubuh: Perdebatan Medis Klasik
Sebagian ulama dan ilmuwan dahulu menolak gagasan bahwa tubuh manusia mengandung unsur api, karena:
- Api bersifat naik ke atas, mustahil bercampur dengan unsur bumi dan air.
- Api mudah padam oleh air, padahal tubuh penuh cairan.
- Dalil syar’i menyebutkan manusia diciptakan dari tanah dan air, bukan api.
Namun, pihak lain berargumen bahwa panas tubuh alami dan proses pemasakan makanan dalam tubuh menunjukkan adanya unsur reaktif yang menyerupai api, meski bukan api hakiki.
4. Dalil-Dalil Penciptaan Manusia
Al-Qur’an menyebut manusia diciptakan dari:
- Air
- Tanah
- Tanah liat (lumpur)
- Tanah bakar (shalshal)
Tidak satu pun ayat yang menyebut manusia diciptakan dari api. Justru penciptaan dari api adalah karakteristik iblis, sebagaimana dalam hadits:
“Iblis diciptakan dari api, dan Adam dari apa yang telah disebutkan kepada kalian.” (HR. Muslim)
5. Penutup: Kesehatan Sejati dalam Pandangan Islam
Islam memandang kesehatan sebagai kombinasi harmonis antara fisik, akal, dan hati. Menjaga keseimbangan antara makan, minum, istirahat, dan ibadah adalah kunci utama kesehatan menurut Thibbun Nabawi. Perut yang penuh bisa menghalangi napas, melemahkan tubuh, dan mengundang syahwat. Maka, sederhana dalam makan adalah kunci sehat, kuat, dan taat.
